Gayus Lumbun Bela Hendropriyono, Pernyataan Keturunan Arab Bukan Ujaran Kebencian

RMOLSumut. Pernyataan mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) AM. Hendropriyono terkait warga negera Indonesia keturunan Arab, bukanlah ujaran kebencian.

Mantan Hakim Agung di Mahkamah Agung (MA), Gayus Lumbun menilai pernyataan tersebut masih sesuai dengan koridor hukum yang berlaku.

"Pernyataan tersebut tidak memenuhi ketentuan Pasal 156 KUHP, kemudian Pasal 157 KUHP," tegas Gayus di Universitas Indonesia (UI) Salemba, Jakarta Pusat, Jumat kemarin (10/5).

Ditekankannya, yang disampaikan Hendropriyono hanya bentuk peringatan terhadap oknum-oknum yang memanfaatkan rasa hormat masyarakat. Hal itu pun merupakan keprihatinan terhadap ulah beberapa orang yang kebetulan keturunan Arab.

"Sesungguhnya, menggambarkan rasa keprihatinannya terhadap ulah beberapa orang yang kebetulan keturunan Arab, yang tidak sesuai dengan penilaian dan penghargaan yang umum diberikan masyarakat Indonesia terhadap keturunan Arab," katanya.

Dengan demikian, lanjut Gayus, peringatan tersebut tidak bisa dikategorikan sebagai suatu sikap rasialis karena memang substansinya tidak mengarah ke sana.

"Harus dilihat secara obyektif, tidak dipolitisir, yang kemudian justru memperkeruh situasi di masyarakat. Hal tersebut sesuai dengan tanggungjawab beliau. Ini informasi intelejen, tapi memiliki rasa kewajiban secara moral," pungkasnya.

Hendropriyono sebelumnya memperingatkan agar M. Rizieq Shihab dan Yusuf Martak agar tidak melakukan provokasi serta mendorong tindakan inkonstitusional pasca Pilpres. Dia juga menyinggung soal warga keturunan Arab.

Hendropriyono memandang banyak warga keturunan Arab yang sangat dihormati di tengah masyarakat. Karena itu dia merasa perlu memperingatkan sebagian warga keturunan Arab agar tidak memprovokasi revolusi sampai turun ke jalan.[top/rmol]


RMOLSumut. Pernyataan mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) AM. Hendropriyono terkait warga negera Indonesia keturunan Arab, bukanlah ujaran kebencian.

Mantan Hakim Agung di Mahkamah Agung (MA), Gayus Lumbun menilai pernyataan tersebut masih sesuai dengan koridor hukum yang berlaku.

"Pernyataan tersebut tidak memenuhi ketentuan Pasal 156 KUHP, kemudian Pasal 157 KUHP," tegas Gayus di Universitas Indonesia (UI) Salemba, Jakarta Pusat, Jumat kemarin (10/5).

Ditekankannya, yang disampaikan Hendropriyono hanya bentuk peringatan terhadap oknum-oknum yang memanfaatkan rasa hormat masyarakat. Hal itu pun merupakan keprihatinan terhadap ulah beberapa orang yang kebetulan keturunan Arab.

"Sesungguhnya, menggambarkan rasa keprihatinannya terhadap ulah beberapa orang yang kebetulan keturunan Arab, yang tidak sesuai dengan penilaian dan penghargaan yang umum diberikan masyarakat Indonesia terhadap keturunan Arab," katanya.

Dengan demikian, lanjut Gayus, peringatan tersebut tidak bisa dikategorikan sebagai suatu sikap rasialis karena memang substansinya tidak mengarah ke sana.

"Harus dilihat secara obyektif, tidak dipolitisir, yang kemudian justru memperkeruh situasi di masyarakat. Hal tersebut sesuai dengan tanggungjawab beliau. Ini informasi intelejen, tapi memiliki rasa kewajiban secara moral," pungkasnya.

Hendropriyono sebelumnya memperingatkan agar M. Rizieq Shihab dan Yusuf Martak agar tidak melakukan provokasi serta mendorong tindakan inkonstitusional pasca Pilpres. Dia juga menyinggung soal warga keturunan Arab.

Hendropriyono memandang banyak warga keturunan Arab yang sangat dihormati di tengah masyarakat. Karena itu dia merasa perlu memperingatkan sebagian warga keturunan Arab agar tidak memprovokasi revolusi sampai turun ke jalan.[top/rmol]