Gas South Andaman Harus Jadi Penggerak Industri dan Ekonomi Aceh

Gas South Andaman Harus Jadi Penggerak Industri dan Ekonomi Aceh
Proyek Hilirisasi Gas Andaman/Net

Article Header Image Pengembangan gas South Andaman diharapkan tidak hanya berfokus pada pembangunan fasilitas pengolahan, tetapi juga mampu mendorong pertumbuhan industri, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan nilai tambah ekonomi bagi Aceh.

Mantan Wakil Kepala Satuan Kerja Khusus Minyak dan Gas (SKK Migas), Fatar Yani Abdurrahman, menegaskan manfaat ekonomi yang lebih besar akan tercipta apabila gas dari South Andaman dapat diserap industri di dalam negeri dengan harga yang kompetitif.

“Yang paling penting adalah gas ini diserap oleh industri. Kalau mau dibangun di daerah, industri apa? Bisa pupuk, petrokimia, metanol, GTL, dan banyak industri lainnya,” ujar Fatar dalam keterangan tertulis diterima redaksi, Selasa, 20 Oktober 2026.

Menurutnya, keberadaan fasilitas pengolahan gas di darat tidak otomatis memberikan dampak ekonomi besar jika tidak didukung industri pengguna gas. Karena itu, pengembangan South Andaman perlu dirancang sebagai bagian dari rantai industri yang mampu menghasilkan nilai tambah dan memperluas penyerapan tenaga kerja.

Fatar mengingatkan, dampak ekonomi tidak cukup diukur dari jumlah pekerja di fasilitas pengolahan. Fasilitas modern semakin banyak menggunakan sistem otomatisasi, sedangkan industri turunan berpotensi menciptakan manfaat ekonomi yang lebih luas.

“Yang penting justru industri turunannya,” tegasnya.

Selain ketersediaan industri pengguna, harga gas menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilan hilirisasi. Industri kimia dan petrokimia sangat sensitif terhadap harga gas karena komoditas tersebut merupakan komponen utama biaya produksi.

“Kalau industri kimia harus membeli gas dengan harga 8 atau 9 dolar, sudah pasti tidak bisa. Mereka akan rugi,” ujarnya.

Fatar menyebut skema Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) dapat menjadi salah satu referensi dalam pembahasan harga gas untuk industri. Namun, kebijakan tersebut harus memperhitungkan keekonomian proyek hulu serta dampaknya terhadap penerimaan negara.

Ia juga menekankan bahwa pemilihan konsep pengembangan South Andaman harus mempertimbangkan keseluruhan biaya investasi, biaya operasional, kepastian cadangan, dan kemampuan produksi, bukan hanya besarnya investasi awal.

Pengembangan gas laut dalam seperti South Andaman memiliki tantangan teknis yang lebih kompleks, mulai dari kedalaman perairan, teknologi produksi bawah laut, hingga kebutuhan fasilitas khusus. Kondisi tersebut menuntut perencanaan matang untuk menjamin keselamatan dan keberlanjutan produksi.

Menurut Fatar, pembangunan fasilitas juga perlu disesuaikan dengan tingkat kepastian cadangan dan kemampuan produksi sumur. Pengembangan bertahap dapat dipertimbangkan apabila data cadangan masih terus berkembang. Ia mengingatkan, fasilitas LNG Arun yang telah lama beroperasi tidak serta-merta menjadi satu-satunya pilihan untuk mengolah gas South Andaman. Kondisi peralatan, kebutuhan teknologi, biaya peremajaan, dan keekonomian harus dikaji terlebih dahulu.

Di sisi lain, kepastian investasi dan keamanan perlu dijaga agar investor tidak menunda keputusan pengembangan proyek.

“Saya selalu menyarankan, ini kesempatan. Kalau memang mau maju, segerakan saja. Jangan sampai terus tertahan,” ujarnya.

Fatar mendorong proyek South Andaman segera ditindaklanjuti dengan tetap mengedepankan tata kelola yang baik dan pengawasan ketat.

“Kalau saya sebagai rakyat, jalankan dulu dan kita lihat. Yang penting kita monitor dan awasi,” pungkasnya.Article Image

Editor : Abdul Kholik Munthe


Berita Terkait