Edy Rahmayadi Tanggapi Buku ‘Bocah Kebon dari Deli’

Peluncuran buku 'Bocah Kebon dari Deli'/ ist
Peluncuran buku 'Bocah Kebon dari Deli'/ ist

  Buku berjudul ‘Bocah Kebon dari Deli’ menarik perhatian Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Edy Rahmayadi. Dia berharap buku ini banyak dibaca orang, terutama generasi muda untuk mendorong semangat menggapai cita-cita.  


Buku 'Bocah Kebon dari Deli’ merupakan buku kisah hidup Profesor Supandi, hakim agung Mahkamah Agung RI. Seseorang yang dilahirkan dan dibesarkan di pinggiran Deli tepatnya di perkebunan Tembung hingga menjadi seorang profesor dan ahli hukum.

 

Kisah ini, menurut Edy Rahmayadi, perlu diketahui anak-anak muda Indonesia, khsusunya Sumut, agar terlahir ‘Supandi-Supandi’ lain dari Sumut. Buku ini menurutnya juga bisa menjadi pelajaran tentang bagai mana seseorang bersikap, karena banyak nilai-nilai kemanusiaan dan agama di dalamnya.

 

“Harusnya ini banyak dibaca orang-orang terutama generasi penerus bangsa agar lahir Supandi-Supandi lain dari sini. Banyak nilai yang bisa kita dapatkan dari buku ini,” kata Edy Rahmayadi usai acara bedah buku Bocah Kebon dari Deli secara virtual, di Rumah Dinas Gubernur Sumut, Jalan Sudirman Nomor 41, Medan, Jumat (17/9).

 

Edy Rahmayadi juga sempat menceritakan betapa sulitnya hidup di era Prof Supandi masih kecil, apalagi dia tinggal di daerah perkebunan. Namun, karena tekad Supandi untuk bisa bersekolah sangat kuat kesulitan itu bisa teratasi.

 

“Kalau dulu di era Prof Supandi masih kecil orang-orang di kebon itu ulat turi pun di makan karena sulitnya makanan dan beliau sekarang jadi Profesor, hakim agung. Kita yang hidupnya sudah enak, sekolah mudah makanan tercukupi masih malas-malasan. Inilah, perlunya membaca buku ini biar kita tahu, menjadi cambuk untuk kita,” tambah Edy Rahmayadi.

 

Supandi sendiri mengungkapkan sulit bila dia kembali menceritakan kisah hidupnya karena cukup menyedihkan. Seperti kakeknya, Ki Ibrahim yang terpaksa lari dari Trangkil dan tinggal di Deli karena berseteru dengan mandor Pabrik Gula Belanda. Kemudian ada juga kisah neneknya Mbah Surip yang diculik saat usia 14 tahun dan di bawa ke Deli untuk menjadi pekerja kebon.

 

Ada juga kisah ayahnya Ngadimun yang bergabung dengan pasukan Djamin Ginting dan Bejo menderita sakit paru-paru parah karena terlalu lama di hutan saat agresi Belanda I dan II. Itu membuat Supandi dibesarkan oleh kakek dan neneknya yang sehari-hari bekerja sebagai pekerja kebon.

 

“Saya kalau menceritakan ini kembali tertahan di sini (sambil menunjukkan lehernya dan menahan air mata), sulit karena cukup sedih. Tetapi, karena penulisnya mengatakan ini tidak hanya bisa menjadi biografi tetapi juga sebuah buku dan menjadi warisan untuk generasi kita, saya semangat,” kata Supandi.