Diujung Nisan GAMKI Deli Serdang

Sartua Tjarda Situmorang/Ist
Sartua Tjarda Situmorang/Ist

Pandemi Covid 19 sudah berjalan lebih dari setahun. Peranan pemuda Kristiani Deliserdang  bagi masyarakat terasa kurang begitu maksimal. Keberadaan pemuda Kristiani Deliserdang  pun terasa senyap seakan sudah berada diujung senja dan menanti malam yang kelam. Kita boleh saja minoritas akan tetapi fungsi garam dan terang harus dapat kita pertahankan dalam membangun Kabupaten yang kita cintai ini.

Potensi besar pemuda Kristen yang ada dikabupaten Deliserdang serasa terkubur tanpa bisa diberdayakan dalam mendukung Pemerintah daerah yang tampaknya sudah kocar-kacir akan keberadaan pandemi Covid 19. Pemuda Kristen seharusnya mampu menunjukkan fungsinya pada masa yang genting ini dan bukan hanya menunggu bola dari Pemerintah untuk dapat berbuat sesuatu.

Potensi pemuda Kristen Protestan sebenarnya cukup besar, hal ini dapat kita lihat dari data BPS yang mencatat secara resmi di  tahun 2021 dimana ada  969 Gereja Kristen protestan di kabupaten Deliserdang. 

Dari jumlah tersebut sebenarnya kita dapat memahami jika potensi Pemuda Gereja untuk dapat memberikan Garam dan Terang dikabupaten Deliserdang sangat besar. Dibutuhkan sebuah wadah kepemudaaan yang mampu mengorganisir potensi-potensi pemuda yang ada. 

Harapan untuk menggalang potensi pemuda tersebut seharusnya ada pada GAMKI sebagai salah satu gerakan pemuda yang bercitacitakan  Oikumenis Nasionalis. Gamki merupakan sebuah wadah yang tepat dalam menampung segala perbedaan yang terdapat didalam aras-aras gereja yang ada. Sebagai anak kandung gereja GAMKI memiliki tanggung jawab dalam melakukan pembinaan dan edukasi terhadap para pemuda gereja dan menjadi jembatan dalam kerukunan umat beragama.

Dalam hal ini GAMKI Deliserdang seharusnya mampu melakukan eksplorasi potensi pemuda gereja kemudian memberdayakannya dalam membangun kabupaten deliserdang. Tidak hanya sampai disana, Gamki juga harus mampu menjadi jembatan antara pemuda gereja dan pemuda agama lain  untuk kemudian  saling bahu membahu membangun bangsa sesuai cita-cita Nasionalis yang terdapat didalam GAMKI. 

Sayangnya mimpi tersebut hanyalah sebatas mimpi, permasalahan manajemen  yang cukup lemah membuat GAMKI Deliserdang seakan kurang mampu melakukan pembinaan dan edukasi terhadap pemuda Gereja untuk dapat memberi kontribusi bagi pemerintah Kabupaten Deliserdang.

Ada beberapa Hal yang menyebabkan antara lain  :

1. Lambatanya pembentukan PAC-PAC  GAMKI Dikabupaten Deliserdang 

Hal ini tentu menjadi sangat berpengaruh dalam menjangkau  Pemuda-pemuda Gereja yang ada di kecamatan. Dewan Pimpinan cabang tidak mungkin dapat menjangkau seluruh gereja di 22 kecamatan. dibutuhkan Pengurus anak cabang dalam menjangkau Pemuda-pemuda Gereja yang ada dikecamatan. 

PAC menjadi ujung tombak didalam melakukan pendampingan dan edukasi terhadap pemuda gereja yang ada diwilayahnya.  Para pengurus PAC juga harus dibentuk dari unsur-unsur pemuda gereja dari seluruh kecamatan. Keberadaan PAC menjadi jalur informasi akan kebutuhan dan permasalahan gereja untuk kemudian dilakukan pendampingan ditingkat pemerintahan kabupaten. Hingga saat ini GAMKI Deliserdang hanya memiliki 3 anak cabang resmi dari 22 kecamatan yang ada dideliserdang. Dan itu jauh dari kata cukup untuk dapat menjangkau 969 gereja yang ada diseluruh Kabupaten Deliserdang.

2. Lambatnya Regenerasi di GAMKI Deliserdang.

Kita juga harus memahami jika mayoritas pemuda gereja saat ini berasal dari golongan milenial dan memiliki pemikiran yang sangat berbeda dengan golongan tua. Lambatnya pola sistem pengkaderan menyebabkan GAMKI Deliserdang memiliki pemimpin dari golongan tua yang cenderung kaku dan kurang demokratis terhadap kaum milenial. Hal ini meyebabkan para generasi milenial tidak tertarik berkontribusi dan berperan aktif dalam kegiatan kepemudaan GAMKI Deliserdang Karena kebutuhan mereka tidak terpenuhi. 

Mungkin bagi golongan tua hal ini terlihat sepele, akan tetapi ini akan sangat berpengaruh dalam keberlangsungan organisasi pemuda. Dibutuhkan gaya tersendiri dalam menarik minat pemuda gereja agar dapat berpartisipasi dalam setiap kegiatan Organisasi GAMKI.  Hal ini pulalah yang harus menjadi perhitungan bagi para calon Pemimpin GAMKI baik ditingkat Cabang ataupun Daerah karena jaman sudah berubah. 

Saat ini Hanya orang-orang yang mampu melihat tanda-tanda jamanlah yang akan mampu bertahan, demikian juga dengan organisasi besar seperti GAMKI, Karena bukan tidak mungkin suatu saat nama GAMKI  akan punah dan hanya melekat disebuah batu nisan kemudian  menjadi sejarah. Dibutuhkan seorang pemimpin yang mampu merangkul golongan milenial dan kemudian  mengajak mereka untuk turut berkontribusi bagi bangsa ini.

3. Kurangnya Study Meeting dalam Menanggapi isu-isu terdekat

Eksistensi sebuah organisasi dapat dilihat dalam kecepatannya dalam menanggapi isu-isu terdekat. Hal ini tentu akan menunjukkan seberapa berpengaruhnya sebuah organisasi dalam menanggapi keluhan-keluhan rakyat ataupun gereja. Study meeting dibutuhkan dalam menaggapi setiap isu yang ada. Hasil study meeting kemudian akan menjadi acuan sebuah organisasi apakah mengeluarkan statement yang mampu menenangkan hati rakyat atau langsung melakukan pendampingan terhadap gereja atau masyarakat. 

Disisi lain study meeting akan menjadi media dalam melakukan proses  bagi kader didalam melakukan analisa sosial dan melatih metodologi berpikir mereka. Kader-kader yang terlatih akan mampu bersikap kritis dan mampu memberi solusi atas segala permasalahan yang ada dimasyarakat. Hal ini tentu akan membuat  GAMKI  menjadi organisasi yang melekat bagi gereja ataupun Masyarakat ketika kader-kadernya tetap eksis dan mampu manjadi jawaban atas setiap permasalahan masyarakat.

Terlepas dari banyaknya masalah yang terdapat di GAMKI Deliserdang saat ini, Dibutuhkan perhatian khusus dari para Pengurus Cabang untuk mempersiapkan kader yang terbaik untuk memimpin GAMKI Deliserdang kedepannya. Hal ini berkenaan telah matinya SK GAMKI Deliserdang pada 07 April 2021. Sudah sewajarnya GAMKI Deliserdang melaksanakan Konfercab demi keberlangsungan organisasi ditingkatan cabang Deliserdang atau dianggap telah gagal melaksanakan tugasnya sebagai Dewan pimpinan cabang GAMKI Deliserdang, karena tiada tanda-tanda konfercab walau SK telah mati lebih dari 3 bulan.

Hal ini harusnya menjadi perhatian khusus  bagi pengurus Caretaker DPD GAMKI Sumut saat ini agar turut melakukan pembenahan kepada cabang-cabang yang telah mati SKnya, kemudian  mendorong  mereka untuk melaksanakan mekanisme organisasi berdasarkan AD/ART GAMKI dan bukan hanya berfokus pada pelaksanaan Konferda GAMKI Sumut. Para pengurus cabang harus dilatih untuk dapat melaksanakan tugasnya dan bukan mengulur-ulur waktu  hanya untuk dapat berpartisipasi  dan mencari peluang dalam konferda GAMKI SUMUT yang akan datang. Seharusnya  bagi para pengurus cabang yang tidak melaksanakan Konfercab berdasarkan SK-nya dicabut haknya untuk  dapat menjadi peserta Konferda GAMKI Sumut dan langsung dicaretaker berdasarkan AD/ART agar proses regenerasi didalam organisasi tetap berjalan. 

Tapi hal ini akan sulit dilakukan jika ada kepentingan dibalik itu semua  dan pada akhirnya diujung nisan itu ada nama organisasi besar yang sedang dipertaruhkan.

Akhir Kata Ora Et Labora. Shalom...

Penulis adalah Mantan Sekretaris Carataker DPC Gamki Kabupaten Deliserdang