Demokrasi Dan Potensi Kesyirikan Modren

RMOLSumut Ada persepsi yang berkembang didalam penyelenggaraan negara moderen bahwa sistem yang dianggap ideal untuk untuk membangun masyarakat yang baik dan benar adalah demokrasi.

Demokrasi menjadi sebuah refrensi besar bagi setiap penyelenggaraan negara - negara dunia. Setiap negara yang tidak mengambil demokrasi sebagai pilihan dalam sistem bernegaranya dianggap ketinggalan zaman dan akan terasing didalam pergaulan internasional.

Diindonesia sendiri demokrasi merupakan sistem yang sekarang ini diterapkan. Demokrasi di Indonesia dapat dilihat dari berbagai kegiatan politik, seperti penyelenggaraan pemilu dan hubungan kelembagaan antara legislatif, yudikatif serta eksekutif.

Demokrasi sangat diagung - agungkan. Bahkan, disebut - sebut demokrasi adalah sesuatu yang sangat ideal, untuk tidak mengatakan sesuatu sistem diluar demokrasi itu buruk.

Lihatlah dimana - dimana orang - orang banyak berbicara demokrasi. Diperguruan tinggi, diseminar, talk show dan lain sebagainya. Buku - buku ilmiah pun banyak mengulas demokrasi. Artikel atau tulisan dimass mediapun tak ketinggalan.

Barangkali kalau zaman sekarang ini, diera 4.0 ini, orang tidak bicara demokrasi pasti dianggap terbelakang, kolot dan tidak intelektual.

Benarkah demokrasi adalah pilihan sistem  yang ideal didalam bernegara?

Demokrasi barangkali tidak salah dan juga tidak jelek. Karena apapun sistem itu yang terpenting adalah orang - orang yang mengendalikan sistem. Jika yang mengendalikan adalah orang baik, maka baiklah sistem itu, begitupun sebaliknya.

Hanya saja menurut hemat penulis, demokrasi  selama ini telah dan tengah dijadikan sebagai sistem yang dikultuskan. Meminjam istilah Emha Ainun Nadjib atau caknun, demokrasi adalah puncak kesyirikan moderen.

Ya, begitulah wajah buruk demokrasi sekarang. Demokrasi sudah dianggap Sebagai sistem yang disegala - galakan dan bahkan dianggap melebihi Tuhan.

Untuk diketahui, demokrasi sebenarnya adalah skenario (negara - negara adidaya yang dikendalikan para kapitalis hitam) untuk melahirkan keterjajahan permanen. Itu sebabnya mereka selalu memaksakan negara  - negara dunia ketiga yang kaya akan sumber daya alam untuk menerapkan demokrasi.

Karena dengan demokrasi  mereka bisa menciptakan pemimpin "boneka" yang dihasilkan melalui proses pemilihan umum yang dilegalisasi. Mempromosikan pemimpin tersebut dimedia masa dan mencitrakan positif dirinya sehingga menarik perhatian publik.

Calon pemimpin boneka ini disokong oleh dana kampanye yang besar yang tentu saja ada motivasi keuntungan lain dibelakangnya. Ini tidak gratis!

Pemimpin seperti ini didukung penuh dan habis - habisan. Sehingga jika terpilih dirinya akan memproduksi paket  kebijakan - kebijakan yang menguntungkan tuannya. Kebijakan itu umumnya adalah kebijakan ekonomi dan politik.

Melalui demokrasi pula mereka bisa mendanai oknum - oknum anggota parlemen untuk melahirkan regulasi yang menciptakan sistem yang menguntungkan mereka. Juga mendesak pemerintah agar membuat kebijakan guna memudahkan investasi disektor - sektor strategis dan lain - lain.

Jika kita melongok kesejarah, sebenarnya demokrasi adalah salah satu cita - cita Plato untuk membayangkan sebuah sistem negara yang ideal. Disamping demokrasi Plato juga memiliki ide sistem lainnya, seperti aristokrasi, timokrasi dan anarki. Istilah yang terakhir ini bukan anarki yang bersifat merusak dan menghancurkan, namun anarki disini adalah teraplikasinya komunitas masyarakat yang bebas tanpa diatur oleh rambu - rambu negara. Kalau yang bersifat kekerasan dan pengerusakan sebutannya adalah vandalisme. Jadi jelas demokrasi bukan pilihan utama .

Tetapi dewasa ini. Diabad 21 ini, mengapa demokrasi itu yang dianggap ideal. Ternyata, karena demokrasilah yang masuk akal bagi dunia ilmiah. Diluar demokrasi dianggap sulit diterjemahkan didalam dunia literasi. Sehingga tidak menjadi materi bisnis yang tepat bagi dunia percetakan. Ben Anderson mengatakan demokrasi itu adalah semu, dia bisa terlihat nyata apabila didukung oleh bisnis percetakan.

Sehingga hal itulah kenapa misalnya  aristokrasi tak begitu seksi untuk diterapkan. Aristokrasi itu adalah sistem kepemimpinan yang berdasarkan trah keturunan kebangsawanan. Dan itu tak masuk akal bagi dunia ilmiah dan tidak pula bisa menjadi modal bagus bagi bisnis percetakan. Tidak seperti halnya demokrasi yang melahirkan pemimpin melalui proses seleksi pemilu.

Melalui demokrasilah kesempatan besar yang bisa dimasuki Amerika dan kroninya untuk diterapkan di dunia ketiga. Demokrasi bukan segalanya. Bahkan ia berpotensi syirik.[top]

Penulis adalah Advokat dan Konsultan Hukum


RMOLSumut Ada persepsi yang berkembang didalam penyelenggaraan negara moderen bahwa sistem yang dianggap ideal untuk untuk membangun masyarakat yang baik dan benar adalah demokrasi.

Demokrasi menjadi sebuah refrensi besar bagi setiap penyelenggaraan negara - negara dunia. Setiap negara yang tidak mengambil demokrasi sebagai pilihan dalam sistem bernegaranya dianggap ketinggalan zaman dan akan terasing didalam pergaulan internasional.

Diindonesia sendiri demokrasi merupakan sistem yang sekarang ini diterapkan. Demokrasi di Indonesia dapat dilihat dari berbagai kegiatan politik, seperti penyelenggaraan pemilu dan hubungan kelembagaan antara legislatif, yudikatif serta eksekutif.

Demokrasi sangat diagung - agungkan. Bahkan, disebut - sebut demokrasi adalah sesuatu yang sangat ideal, untuk tidak mengatakan sesuatu sistem diluar demokrasi itu buruk.

Lihatlah dimana - dimana orang - orang banyak berbicara demokrasi. Diperguruan tinggi, diseminar, talk show dan lain sebagainya. Buku - buku ilmiah pun banyak mengulas demokrasi. Artikel atau tulisan dimass mediapun tak ketinggalan.

Barangkali kalau zaman sekarang ini, diera 4.0 ini, orang tidak bicara demokrasi pasti dianggap terbelakang, kolot dan tidak intelektual.

Benarkah demokrasi adalah pilihan sistem  yang ideal didalam bernegara?

Demokrasi barangkali tidak salah dan juga tidak jelek. Karena apapun sistem itu yang terpenting adalah orang - orang yang mengendalikan sistem. Jika yang mengendalikan adalah orang baik, maka baiklah sistem itu, begitupun sebaliknya.

Hanya saja menurut hemat penulis, demokrasi  selama ini telah dan tengah dijadikan sebagai sistem yang dikultuskan. Meminjam istilah Emha Ainun Nadjib atau caknun, demokrasi adalah puncak kesyirikan moderen.

Ya, begitulah wajah buruk demokrasi sekarang. Demokrasi sudah dianggap Sebagai sistem yang disegala - galakan dan bahkan dianggap melebihi Tuhan.

Untuk diketahui, demokrasi sebenarnya adalah skenario (negara - negara adidaya yang dikendalikan para kapitalis hitam) untuk melahirkan keterjajahan permanen. Itu sebabnya mereka selalu memaksakan negara  - negara dunia ketiga yang kaya akan sumber daya alam untuk menerapkan demokrasi.

Karena dengan demokrasi  mereka bisa menciptakan pemimpin "boneka" yang dihasilkan melalui proses pemilihan umum yang dilegalisasi. Mempromosikan pemimpin tersebut dimedia masa dan mencitrakan positif dirinya sehingga menarik perhatian publik.

Calon pemimpin boneka ini disokong oleh dana kampanye yang besar yang tentu saja ada motivasi keuntungan lain dibelakangnya. Ini tidak gratis!

Pemimpin seperti ini didukung penuh dan habis - habisan. Sehingga jika terpilih dirinya akan memproduksi paket  kebijakan - kebijakan yang menguntungkan tuannya. Kebijakan itu umumnya adalah kebijakan ekonomi dan politik.

Melalui demokrasi pula mereka bisa mendanai oknum - oknum anggota parlemen untuk melahirkan regulasi yang menciptakan sistem yang menguntungkan mereka. Juga mendesak pemerintah agar membuat kebijakan guna memudahkan investasi disektor - sektor strategis dan lain - lain.

Jika kita melongok kesejarah, sebenarnya demokrasi adalah salah satu cita - cita Plato untuk membayangkan sebuah sistem negara yang ideal. Disamping demokrasi Plato juga memiliki ide sistem lainnya, seperti aristokrasi, timokrasi dan anarki. Istilah yang terakhir ini bukan anarki yang bersifat merusak dan menghancurkan, namun anarki disini adalah teraplikasinya komunitas masyarakat yang bebas tanpa diatur oleh rambu - rambu negara. Kalau yang bersifat kekerasan dan pengerusakan sebutannya adalah vandalisme. Jadi jelas demokrasi bukan pilihan utama .

Tetapi dewasa ini. Diabad 21 ini, mengapa demokrasi itu yang dianggap ideal. Ternyata, karena demokrasilah yang masuk akal bagi dunia ilmiah. Diluar demokrasi dianggap sulit diterjemahkan didalam dunia literasi. Sehingga tidak menjadi materi bisnis yang tepat bagi dunia percetakan. Ben Anderson mengatakan demokrasi itu adalah semu, dia bisa terlihat nyata apabila didukung oleh bisnis percetakan.

Sehingga hal itulah kenapa misalnya  aristokrasi tak begitu seksi untuk diterapkan. Aristokrasi itu adalah sistem kepemimpinan yang berdasarkan trah keturunan kebangsawanan. Dan itu tak masuk akal bagi dunia ilmiah dan tidak pula bisa menjadi modal bagus bagi bisnis percetakan. Tidak seperti halnya demokrasi yang melahirkan pemimpin melalui proses seleksi pemilu.

Melalui demokrasilah kesempatan besar yang bisa dimasuki Amerika dan kroninya untuk diterapkan di dunia ketiga. Demokrasi bukan segalanya. Bahkan ia berpotensi syirik.[top]

Penulis adalah Advokat dan Konsultan Hukum