Demo Di Medan, Komunitas Masyarakat Adat Desak Penutupan PT TPL

Unjuk rasa Aliansi Gerak Tutup TPL di Medan/RMOLSumut
Unjuk rasa Aliansi Gerak Tutup TPL di Medan/RMOLSumut

Elemen masyarakat yang menamakan diri Aliansi Gerak Tutup TPL berunjuk rasa mendesak penutupan PT Toba Pulp Lestari (TPL), Rabu (28/7/2021). Aksi ini mereka gelar di depan Gedung Uniplaza, Jalan MT Haryono, Medan.


Dalam aksinya, pengunjuk rasa yang mengenakan alat pelindung diri terlihat membawa berbagai spanduk berisi tuntutan mereka agar perusahaan bubur kertas tersebut segera hengkang dari Kabupaten Toba. Pengunjuk rasa menilai keberadaan perusahaan tersebut memunculkan kerusakan lingkungan hidup dan ekosistem di seputaran Danau Toba terkait penguasaan lahan konsesi seluas 167.192 hektar yang tersebar pada beberapa kabupaten di seputaran danau tersebut.

Pimpinan aksi Brema Sitepu mengatakan, selain menimbulkan kerusakan ekosistem, keberadaan perusahaan tersebut juga kerap memunculkan konflik mengingat kawasan konsesi mereka kerap bersinggungan dengan tanah adat masyarakat.

"Konflik ini yang kerap memunculkan adanya tindakan sewenang-wenang kepada warga yang mempertahankan lahan adatnya," katanya kepada wartawan.

Brema membeberkan beberapa kejadian yang menurut mereka menjadi buntut dari kehadiran perusahaan tersebut. Beberapa diantaranya yakni kekerasan bersenjata yang mengakibatkan setidaknya dua orang sipil wafat: Ir Panuju Manurung (26 November 1998) dan Hermanto Sitorus (21 Juni 2000). 

Lalu, tercatat selama kurun waktu 5 (lima) tahun terakhir (2016-2021) PT TPL telah melakukan kejahatan kemanusiaan terhadap masyarakat sebanyak 63 orang. Yang paling terakhir ketika PT TPL pada 18 Mei 2021 melakukan kekerasan terhadap 12  warga Masyarakat Adat Marga Simanjuntak Huta (Desa) Natumingka. 

"Kasus terakhir ini yang memicu rasa marah dan geram yang meluas di masyarakat luas, termasuk Togu Simorangkir, Anita Hutagalung dan Irwandi Sirait yang dengan spontan merencanakan aksi jalan kaki Toba-Jakarta untuk meminta Presiden Jokowi menutup perusahaan ini secara permanen," ujarnya.

Atas hal ini massa pengunjuk rasa menyampaikan beberapa tuntutan yakni: 

1. Mendesak Presiden untuk memiliki itikad baik untuk bertemu dengan TIM 11, Peserta Aksi Jalan Kaki (Ajak) Tutup TPL dan perwakilan Aliansi Gerak Tutup TPL serta mendengarkan tuntutan rakyat untuk Tutup TPL.

2. Meminta kepada Pemerintah Indonesia melalui Presiden Joko widodo serta Menteri KLHK untuk menutup PT. TPL karena dianggap menjadi akar masalah dari banyaknya konfllik struktural, bencana ekologis, dan deforestasi kawasan hutan yang berada di wilayah konsesinya.

3. Mengusut tuntas segala persoalan yang diakibatkan oleh PT. TPL.