Curahan Hati Molly Potret Sistem Pendidikan Hari Ini

Postingan Yunee Rangkuty perihal curahan hati putrinya Molly Aevrille Santana yang berjudul “Saya Terlambat Sekolah" di Facebook, sangat disayangkan oleh pihak sekolah. Hal tersebut diakui oleh Yuni kepada Kantor Berita RMOLSumut, Jum'at (31/1/2020) setelah melakukan pertemuan dengan pihak sekolah, dimana Molly menuntut ilmu. "Diskusi terakhir dengan pihak sekolah cukup kondusif, tapi mereka menyayangkan saya posting tulisan itu. Mereka agak mengkhawatirkan sekolah terbawa-bawa dan nama sekolah jadi jelek, sementara selama ini sekolah tersebut cukup berprestasi", ujarnya. Yuni menekankan bahwa tidak ada niat untuk menjelekkan sekolah, sebab dalam postingannya tersebut menurutnya tidak ada unsur yang menjelekkan tentang sekolah. "Di postingn, saya cuma bilang bahwa pihak sekolah berdiskusi dengan saya bagaimana jalan keluar untuk anak saya", jelasnya. Menurutnya tulisan Molly tersebut memang layak untuk dipublikasi agar dilihat oleh banyak  pelaku tenaga pendidik. "Karenakan selama ini mungkin guru itu kadang lupa, seperti saya ini yang juga guru, dulu saya waktu jadi siswa itu maunya apa, saya itu keluh kesahnya apa, saya lupa gitu kan. Padahal dulu juga pernah jadi siswa, itulah yang ada dalam pikiran Molly", ujarnya. Menurut Yuni, Molly hanya ingin perubahan cara menlankan sistem pendidikan. "Ya kami, para guru ini yang dikritik dia, enggak mestinya kayak sekarang ini, berubahlah caranya, karena enggak gini loh yang kami mau", ujarnya mencontohkan bicara Molly. Menurutnya, tulisan Molly tersebut mewakili suara hati kebanyakan orang yang hari ini berada dalam sistem pendidikan. "Saya mendapat beberapa inbox, seperti yang mengatakan 'memang ini suara saya dulu, tapi saya dulu pengecut enggak berani ngomong, hanya berani sembunyi di balik perpustakaan saja, karena yang saya dapat hanya itu-itu aja cuma didikte yang sebenarnya bisa didapat dari buku'," kata Yuni. "Harapannya saya cuma pengen isi hati anak saya ini didengar yang mewakili banyak suara murid lainnya, ya memang itu juga termasuk saya yang juga guru", pungkasnya. Menurut penjelasannya, pihak sekolah sejauh ini cukup kooperatif dalam berdiskusi perihal permasalahan tersebut, dan tidak ada sikap yang diskriminatif. [R]


Postingan Yunee Rangkuty perihal curahan hati putrinya Molly Aevrille Santana yang berjudul “Saya Terlambat Sekolah" di Facebook, sangat disayangkan oleh pihak sekolah. Hal tersebut diakui oleh Yuni kepada Kantor Berita RMOLSumut, Jum'at (31/1/2020) setelah melakukan pertemuan dengan pihak sekolah, dimana Molly menuntut ilmu. "Diskusi terakhir dengan pihak sekolah cukup kondusif, tapi mereka menyayangkan saya posting tulisan itu. Mereka agak mengkhawatirkan sekolah terbawa-bawa dan nama sekolah jadi jelek, sementara selama ini sekolah tersebut cukup berprestasi", ujarnya. Yuni menekankan bahwa tidak ada niat untuk menjelekkan sekolah, sebab dalam postingannya tersebut menurutnya tidak ada unsur yang menjelekkan tentang sekolah. "Di postingn, saya cuma bilang bahwa pihak sekolah berdiskusi dengan saya bagaimana jalan keluar untuk anak saya", jelasnya. Menurutnya tulisan Molly tersebut memang layak untuk dipublikasi agar dilihat oleh banyak  pelaku tenaga pendidik. "Karenakan selama ini mungkin guru itu kadang lupa, seperti saya ini yang juga guru, dulu saya waktu jadi siswa itu maunya apa, saya itu keluh kesahnya apa, saya lupa gitu kan. Padahal dulu juga pernah jadi siswa, itulah yang ada dalam pikiran Molly", ujarnya. Menurut Yuni, Molly hanya ingin perubahan cara menlankan sistem pendidikan. "Ya kami, para guru ini yang dikritik dia, enggak mestinya kayak sekarang ini, berubahlah caranya, karena enggak gini loh yang kami mau", ujarnya mencontohkan bicara Molly. Menurutnya, tulisan Molly tersebut mewakili suara hati kebanyakan orang yang hari ini berada dalam sistem pendidikan. "Saya mendapat beberapa inbox, seperti yang mengatakan 'memang ini suara saya dulu, tapi saya dulu pengecut enggak berani ngomong, hanya berani sembunyi di balik perpustakaan saja, karena yang saya dapat hanya itu-itu aja cuma didikte yang sebenarnya bisa didapat dari buku'," kata Yuni. "Harapannya saya cuma pengen isi hati anak saya ini didengar yang mewakili banyak suara murid lainnya, ya memang itu juga termasuk saya yang juga guru", pungkasnya. Menurut penjelasannya, pihak sekolah sejauh ini cukup kooperatif dalam berdiskusi perihal permasalahan tersebut, dan tidak ada sikap yang diskriminatif.