Cerita Anak Siantar 'Jagoan Software' Perusahaan Raksasa Alibaba, Hingga Nikah Massal Di Cina

Adrew Budiman dan istri Amelia Materina, menjadi satu dari 101 pasangan yang beruntung dapat merayakan kembali pernikahan mereka di kantor pusat Alibaba di Hangzhou, Tiongkok, pada acara puncak perayaan Ali Day, 10 Mei 2019 lalu. Ali Day adalah sebuah momen penting bagi para Aliren (sebutan bagi karyawan Alibaba), yang bermula dari kejadian pada tanggal 10 Mei 2005 ketika wabah SARS menyerang seorang pegawai Alibaba. Seluruh karyawan dirumahkan, namun karena komitmen mereka, pekerjaan tetap dilanjutkan di rumah. Peringatan Ali Day setiap tahun ini kemudian menjadi hari untuk memberikan apresiasi kepada seluruh karyawan Alibaba dan keluarganya.

Semua bermula ketika Andrew yang merupakan seorang software engineer bekerja di kantor Alibaba di Jakarta - menerima email dari divisi HRD kantor pusat Alibaba di Hangzhou berisi undangan kepada mereka untuk berpartisipasi dalam acara pernikahan massal ini. Dengan dukungan sang istri, begitu bersemangat dan tanpa ragu, Andrew langsung menerima tawaran tersebut. Ini adalah kesempatan sekali seumur hidup, dapat menikah di Tiongkok dan mendapat wejangan dari Jack Ma, pikirnya. Secara hukum dan agama Andrew dan Amelia sudah melaksanakan pernikahan pada 1 Desember 2018 lalu, dilanjutkan dengan resepsi di Jakarta pada 9 Desember. Jadi, upacara pernikahan di Hangzhou akan menjadi upacara pernikahan yang ketiga kalinya.

Persiapan hingga upacara pernikahan

Tibalah hari pernikahan itu. Sebelum menuju lokasi pernikahan, Amelia di make-up agar tampil anggun bak putri dari Tiongkok. Keduanya pun mendapatkan baju pengantin anggun berwarna merah, sebuah pakaian khas pernikahan tradisional Tiongkok. Setelah siap, Andrew dan Amelia pun diantar ke lokasi pernikahan di Xixi Campus, sebutan kantor pusat Alibaba di Hangzhou. "Saya sangat terkejut, kami menjadi pusat perhatian seluruh pengunjung! Selain internal media, acara AliDay ini juga diliput oleh berbagai media di China dan juga media dari beberapa negara termasuk dari Indonesia," kata Andrew yang bekerja sebagai Software Developer untuk ANT Financial.

Keduanya pun mengikuti seluruh prosesi acara pernikahan tradisional Tiongkok ini, mulai dari membasuh tangan, memakan daging yang sama, minum anggur pernikahan, saling memotong rambut, serta saling bertukar cinderamata, hingga memasang gembok di jembatan sebagai bentuk ikatan cinta mereka.

Terakhir yang paling ditunggu, adalah ketika Jack Ma menyampaikan wejangan kepada seluruh pasangan. "Bekerja dengan orang yang kita sukai adalah sebuah keberuntungan. Tapi hidup bersama orang yang kita cintai adalah anugrah sepanjang hidup," katanya menuturkan apa yang disampaikan Jack Ma.

Setelah upacara pernikahan, Andew dan Amelia diundang untuk mengikuti after-party bersama dengan pasangan lainnya.

"Saya bersyukur bisa bergabung bersama dengan Alibaba dan sangat bangga menjadi bagian dari Aliren. Pengalaman saya di Ali Day semakin menyadarkan saya bahwa Alibaba lebih dari sekadar tempat bekerja, namun juga sebagai sebuah keluarga besar," ungkapnya.

Bulan Madu bertema "Teknologi" di Hangzhou tanpa uang tunai


Sehari sebelum pesta pernikahan, Andrew dan Amelia berkesempatan untuk berkeliling kota Hangzhou. Untuk pertama kalinya Andrew menginjakkan kaki di Tiongkok dan di Hangzhou, dan begitu kagumnya ia melihat West Lake yang membuatnya teringat masa kanak-kanaknya.

"Saya menonton serial Siluman Ular Putih. Ternyata, di sinilah legenda ular putih itu tempatnya," kenang pria kelahiran Pematangsiantar, 5 Agustus 1991 ini.

Keduanya berkesempatan menginap di Flyzoo Hotel, sebuah hotel robotik milik Alibaba Group yang dibangun dengan menggunakan teknologi Alibaba. Di hotel ini, berbagai fasilitas dan layanan digerakkan secara otomatis dengan robot dan teknologi Atrificial Inteligent (AI), mulai dari check in mandiri, pengenalan wajah untuk mengakses lift dan pintu kamar, pengendalian kenyamanan kamar dan pemesanan room service melalui perintah suara, bartender robot, serta pelayan robot untuk mengantar pesanan ke kamar atau di restoran.

Andrew dan Amelia pun berkesempatan untuk merasakan kemajuan teknologi yang ada di Hangzhou seperti berbelanja dan makan tanpa repot-repot mengeluarkan uang tunai, cukup menggunakan smartphone, bahkan bertransaksi di toko tanpa petugas kasir.

Perjalanan karirnya di perusahaan raksasa ini layak menjadi inspirasi.

"Saya seorang software engineer Alibaba Group yang berbasis di Jakarta dan sehari-hari menangani digital wallet untuk ekosistem Alibaba, khususnya Touch N Go Malaysia, yang dikelola Ant Financial. Tugas utama saya adalah menulis kode, melakukan uji coba, lalu meluncurkan kode tersebut untuk kelancaran operasional Touch N Go," ungkapnya.

Awalnya menurut Andrew is bercita-cita untuk mengejar impian saya untuk bekerja di luar negeri, terutama di perusahaan multinasional yang berlokasi di Singapura. Saya berencana untuk bekerja di Indonesia selama dua tahun, lalu pindah ke Singapura. Ternyata, Tuhan bekerja dengan cara-Nya sendiri.

Setelah menjalani karir sebagai programmer di perusahaan swasta dan mendirikan usaha sendiri, ia bergabung di Aptus Business Logic (ABL), perusahaan konsultan software programming multinasional. Walau berbasis di Jakarta, ia menangani proyek-proyek regional ABL di Thailand dan Malaysia. Tak disangka, di tahun 2018, ABL menjadi bagian dari ekosistem Alibaba Group melalui Ant Financial, dan saya terus dipercaya menangani proyek digital wallet regional, terutama Touch N Go.

"Ini benar-benar mimpi yang menjadi kenyataan bisa menjadi software engineer di perusahaan global terkemuka yang saya kagumi, menangani proyek regional dan bisa banyak belajar dari programmer profesional yang lebih senior. Selain itu, Alibaba adalah perusahaan Jack Ma, Jack Ma adalah bos impian saya," sebutnya.

Ia menyebutkan dalam bekerja ia tidak pernah menerapkan apa yang disebut dengan istilah learning by doing, yaitu belajar sambil berlatih. Mengapa? Karena menurutnya bergabung dengan sebuah perusahaan tanpa mempelajari hal baru akan berakhir dengan kegagalan.

Hal yang penting selama bekerja di sini adalah self-management, yaitu seni mengontrol diri sendiri. Tidak peduli seberapa rajin, pintar, atau jenius, kalau kita tidak bisa mengatur diri sendiri, maka semua yang kita lakukan menjadi gagal. Di sini, kesuksesan bukan diukur dari seberapa pintarnya kita, tapi seberapa baiknya kita bisa mengatur diri sendiri.

Ia menyebutkan tidak dapat membandingkan pekerjaannya dahulu dengan pekerjaannya sekarang di perusahaan raksasa tersebut. Begitu juga mengenai dua perusahaan yang pernah menjadi tempatnya berkarir tersebut.

"Alibaba Group dan Ant Financial adalah perusahaan teknologi yang besar. Bicara tentang teknologi, inovasi dan kreativitas adalah dua hal penting yang harus dimiliki. Jadi, setiap hari, saya merasa tertantang untuk memberikan dedikasi terbaik, dan berpikir kreatif supaya saya bisa memberikan ide baru yang bisa menyelesaikan masalah di masyarakat," tambahnya.

Di tengah ketatnya kompetisi di industri teknologi, menurutnya tidak bisa memproduksi produk yang setengah-setengah dan harus selalu dituntut mampu melampaui ekspektasi konsumen.

"Hal lain yang memotivasi saya adalah kultur kerja di Alibaba Group yang hangat, menyenangkan, tapi juga menantang di saat yang sama. Ada saatnya saya harus bekerja sendirian, tapi sering juga saya bekerja bersama dengan tim di kantor untuk saling membantu," pungkasnya.

"Salah satu pengalaman menantang dalam bekerja di perusahaan ini adalah travel dan working time yang cukup padat, tapi seluruh anggota tim saling mendukung satu sama lain. Sebagai contoh, pada project Touch N Go. Project ini bisa sangat sukses, big achievement untuk kita semua, karena semua anggota tim saling mendukung. Sejauh ini, beberapa coding atau feature sudah dikeluarkan untuk project Touch N Go Malaysia," demikian Andrew.


Adrew Budiman dan istri Amelia Materina, menjadi satu dari 101 pasangan yang beruntung dapat merayakan kembali pernikahan mereka di kantor pusat Alibaba di Hangzhou, Tiongkok, pada acara puncak perayaan Ali Day, 10 Mei 2019 lalu. Ali Day adalah sebuah momen penting bagi para Aliren (sebutan bagi karyawan Alibaba), yang bermula dari kejadian pada tanggal 10 Mei 2005 ketika wabah SARS menyerang seorang pegawai Alibaba. Seluruh karyawan dirumahkan, namun karena komitmen mereka, pekerjaan tetap dilanjutkan di rumah. Peringatan Ali Day setiap tahun ini kemudian menjadi hari untuk memberikan apresiasi kepada seluruh karyawan Alibaba dan keluarganya.

Semua bermula ketika Andrew yang merupakan seorang software engineer bekerja di kantor Alibaba di Jakarta - menerima email dari divisi HRD kantor pusat Alibaba di Hangzhou berisi undangan kepada mereka untuk berpartisipasi dalam acara pernikahan massal ini. Dengan dukungan sang istri, begitu bersemangat dan tanpa ragu, Andrew langsung menerima tawaran tersebut. Ini adalah kesempatan sekali seumur hidup, dapat menikah di Tiongkok dan mendapat wejangan dari Jack Ma, pikirnya. Secara hukum dan agama Andrew dan Amelia sudah melaksanakan pernikahan pada 1 Desember 2018 lalu, dilanjutkan dengan resepsi di Jakarta pada 9 Desember. Jadi, upacara pernikahan di Hangzhou akan menjadi upacara pernikahan yang ketiga kalinya.

Persiapan hingga upacara pernikahan

Tibalah hari pernikahan itu. Sebelum menuju lokasi pernikahan, Amelia di make-up agar tampil anggun bak putri dari Tiongkok. Keduanya pun mendapatkan baju pengantin anggun berwarna merah, sebuah pakaian khas pernikahan tradisional Tiongkok. Setelah siap, Andrew dan Amelia pun diantar ke lokasi pernikahan di Xixi Campus, sebutan kantor pusat Alibaba di Hangzhou. "Saya sangat terkejut, kami menjadi pusat perhatian seluruh pengunjung! Selain internal media, acara AliDay ini juga diliput oleh berbagai media di China dan juga media dari beberapa negara termasuk dari Indonesia," kata Andrew yang bekerja sebagai Software Developer untuk ANT Financial.

Keduanya pun mengikuti seluruh prosesi acara pernikahan tradisional Tiongkok ini, mulai dari membasuh tangan, memakan daging yang sama, minum anggur pernikahan, saling memotong rambut, serta saling bertukar cinderamata, hingga memasang gembok di jembatan sebagai bentuk ikatan cinta mereka.

Terakhir yang paling ditunggu, adalah ketika Jack Ma menyampaikan wejangan kepada seluruh pasangan. "Bekerja dengan orang yang kita sukai adalah sebuah keberuntungan. Tapi hidup bersama orang yang kita cintai adalah anugrah sepanjang hidup," katanya menuturkan apa yang disampaikan Jack Ma.

Setelah upacara pernikahan, Andew dan Amelia diundang untuk mengikuti after-party bersama dengan pasangan lainnya.

"Saya bersyukur bisa bergabung bersama dengan Alibaba dan sangat bangga menjadi bagian dari Aliren. Pengalaman saya di Ali Day semakin menyadarkan saya bahwa Alibaba lebih dari sekadar tempat bekerja, namun juga sebagai sebuah keluarga besar," ungkapnya.

Bulan Madu bertema "Teknologi" di Hangzhou tanpa uang tunai


Sehari sebelum pesta pernikahan, Andrew dan Amelia berkesempatan untuk berkeliling kota Hangzhou. Untuk pertama kalinya Andrew menginjakkan kaki di Tiongkok dan di Hangzhou, dan begitu kagumnya ia melihat West Lake yang membuatnya teringat masa kanak-kanaknya.

"Saya menonton serial Siluman Ular Putih. Ternyata, di sinilah legenda ular putih itu tempatnya," kenang pria kelahiran Pematangsiantar, 5 Agustus 1991 ini.

Keduanya berkesempatan menginap di Flyzoo Hotel, sebuah hotel robotik milik Alibaba Group yang dibangun dengan menggunakan teknologi Alibaba. Di hotel ini, berbagai fasilitas dan layanan digerakkan secara otomatis dengan robot dan teknologi Atrificial Inteligent (AI), mulai dari check in mandiri, pengenalan wajah untuk mengakses lift dan pintu kamar, pengendalian kenyamanan kamar dan pemesanan room service melalui perintah suara, bartender robot, serta pelayan robot untuk mengantar pesanan ke kamar atau di restoran.

Andrew dan Amelia pun berkesempatan untuk merasakan kemajuan teknologi yang ada di Hangzhou seperti berbelanja dan makan tanpa repot-repot mengeluarkan uang tunai, cukup menggunakan smartphone, bahkan bertransaksi di toko tanpa petugas kasir.

Perjalanan karirnya di perusahaan raksasa ini layak menjadi inspirasi.

"Saya seorang software engineer Alibaba Group yang berbasis di Jakarta dan sehari-hari menangani digital wallet untuk ekosistem Alibaba, khususnya Touch N Go Malaysia, yang dikelola Ant Financial. Tugas utama saya adalah menulis kode, melakukan uji coba, lalu meluncurkan kode tersebut untuk kelancaran operasional Touch N Go," ungkapnya.

Awalnya menurut Andrew is bercita-cita untuk mengejar impian saya untuk bekerja di luar negeri, terutama di perusahaan multinasional yang berlokasi di Singapura. Saya berencana untuk bekerja di Indonesia selama dua tahun, lalu pindah ke Singapura. Ternyata, Tuhan bekerja dengan cara-Nya sendiri.

Setelah menjalani karir sebagai programmer di perusahaan swasta dan mendirikan usaha sendiri, ia bergabung di Aptus Business Logic (ABL), perusahaan konsultan software programming multinasional. Walau berbasis di Jakarta, ia menangani proyek-proyek regional ABL di Thailand dan Malaysia. Tak disangka, di tahun 2018, ABL menjadi bagian dari ekosistem Alibaba Group melalui Ant Financial, dan saya terus dipercaya menangani proyek digital wallet regional, terutama Touch N Go.

"Ini benar-benar mimpi yang menjadi kenyataan bisa menjadi software engineer di perusahaan global terkemuka yang saya kagumi, menangani proyek regional dan bisa banyak belajar dari programmer profesional yang lebih senior. Selain itu, Alibaba adalah perusahaan Jack Ma, Jack Ma adalah bos impian saya," sebutnya.

Ia menyebutkan dalam bekerja ia tidak pernah menerapkan apa yang disebut dengan istilah learning by doing, yaitu belajar sambil berlatih. Mengapa? Karena menurutnya bergabung dengan sebuah perusahaan tanpa mempelajari hal baru akan berakhir dengan kegagalan.

Hal yang penting selama bekerja di sini adalah self-management, yaitu seni mengontrol diri sendiri. Tidak peduli seberapa rajin, pintar, atau jenius, kalau kita tidak bisa mengatur diri sendiri, maka semua yang kita lakukan menjadi gagal. Di sini, kesuksesan bukan diukur dari seberapa pintarnya kita, tapi seberapa baiknya kita bisa mengatur diri sendiri.

Ia menyebutkan tidak dapat membandingkan pekerjaannya dahulu dengan pekerjaannya sekarang di perusahaan raksasa tersebut. Begitu juga mengenai dua perusahaan yang pernah menjadi tempatnya berkarir tersebut.

"Alibaba Group dan Ant Financial adalah perusahaan teknologi yang besar. Bicara tentang teknologi, inovasi dan kreativitas adalah dua hal penting yang harus dimiliki. Jadi, setiap hari, saya merasa tertantang untuk memberikan dedikasi terbaik, dan berpikir kreatif supaya saya bisa memberikan ide baru yang bisa menyelesaikan masalah di masyarakat," tambahnya.

Di tengah ketatnya kompetisi di industri teknologi, menurutnya tidak bisa memproduksi produk yang setengah-setengah dan harus selalu dituntut mampu melampaui ekspektasi konsumen.

"Hal lain yang memotivasi saya adalah kultur kerja di Alibaba Group yang hangat, menyenangkan, tapi juga menantang di saat yang sama. Ada saatnya saya harus bekerja sendirian, tapi sering juga saya bekerja bersama dengan tim di kantor untuk saling membantu," pungkasnya.

"Salah satu pengalaman menantang dalam bekerja di perusahaan ini adalah travel dan working time yang cukup padat, tapi seluruh anggota tim saling mendukung satu sama lain. Sebagai contoh, pada project Touch N Go. Project ini bisa sangat sukses, big achievement untuk kita semua, karena semua anggota tim saling mendukung. Sejauh ini, beberapa coding atau feature sudah dikeluarkan untuk project Touch N Go Malaysia," demikian Andrew.