Cerita Aktifis 'Gerakan Bunuh Politik Uang', Ditertawakan Teman Disebut Lagi Halu

Politik uang yang meski sulit dibuktikan namun sudah mengakar, membuat kalangan masyarakat pesimis hal itu mustahil untuk dilakukan. Bahkan orang-orang yang menyuarakan bentuk perlawanan terhadap praktik politik uang atau money politics masih dianggap sebagai orang yang sedang berhalusinasi. Hal ini disampaikan aktifis yang juga Ketua Relawan Gerakan Bunuh Politik Uang (GBPU), Ahmad Fauzi Pohan dalam diskusi Social Infinity Meetup (SIM) di Kantor Redaksi RMOLSumut, Jumat (7/2). "Teman-teman sendiri ketika saya sampaikan tentang gerakan ini, langsung dibilang. Ini lagi halu (berhalusinasi) kami ditertawakan," katanya. Menurut Fauzi, kondisi ini menjadi sangat miris. Karena sebagian hampir sebagian besar yang mengatakan hal itu berasal dari kalangan anak muda. Sikap pesimis terhadap upaya menyelamatkan demokrasi dari Politik Uang itu menurutnya menjadi gambaran betapa massifnya kehancuran demokrasi akibat perilaku yang melanggar aturan tersebut. "Dari situ kita bisa melihat bahwa ini gerakan yang sulit. Tapi kami tetap optimis, perlahan-lahan gerakan ini akan mendapat dukungan dari masyarakat," ujarnya. Topik 'Gerakan Bunuh Politik Uang' diangkat oleh RMOLSumut seiring kontestasi pesta demokrasi Pilkada yang akan diikuti 23 kabupaten/kota di Sumatera Utara. Diharapkan gerakan ini menjadi momentum untuk menjadi bahan pemikiran masyarakat khususnya kalangan pemilih atas banyaknya kepala daerah yang terjerat hukum karena korupsi. "Akar dari perilaku korup salah satunya adalah politik uang," kata Pemimpin redaksi RMOLSumut.id, Tuahta Arief.[R]


Politik uang yang meski sulit dibuktikan namun sudah mengakar, membuat kalangan masyarakat pesimis hal itu mustahil untuk dilakukan. Bahkan orang-orang yang menyuarakan bentuk perlawanan terhadap praktik politik uang atau money politics masih dianggap sebagai orang yang sedang berhalusinasi. Hal ini disampaikan aktifis yang juga Ketua Relawan Gerakan Bunuh Politik Uang (GBPU), Ahmad Fauzi Pohan dalam diskusi Social Infinity Meetup (SIM) di Kantor Redaksi RMOLSumut, Jumat (7/2). "Teman-teman sendiri ketika saya sampaikan tentang gerakan ini, langsung dibilang. Ini lagi halu (berhalusinasi) kami ditertawakan," katanya. Menurut Fauzi, kondisi ini menjadi sangat miris. Karena sebagian hampir sebagian besar yang mengatakan hal itu berasal dari kalangan anak muda. Sikap pesimis terhadap upaya menyelamatkan demokrasi dari Politik Uang itu menurutnya menjadi gambaran betapa massifnya kehancuran demokrasi akibat perilaku yang melanggar aturan tersebut. "Dari situ kita bisa melihat bahwa ini gerakan yang sulit. Tapi kami tetap optimis, perlahan-lahan gerakan ini akan mendapat dukungan dari masyarakat," ujarnya. Topik 'Gerakan Bunuh Politik Uang' diangkat oleh RMOLSumut seiring kontestasi pesta demokrasi Pilkada yang akan diikuti 23 kabupaten/kota di Sumatera Utara. Diharapkan gerakan ini menjadi momentum untuk menjadi bahan pemikiran masyarakat khususnya kalangan pemilih atas banyaknya kepala daerah yang terjerat hukum karena korupsi. "Akar dari perilaku korup salah satunya adalah politik uang," kata Pemimpin redaksi RMOLSumut.id, Tuahta Arief.