Bertemu di Bandung, Ketum JMSI dan Ketua Kadin Jabar Bahas Potensi Industri Nasional

 Ketua Umum Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Teguh Santosa (kiri) ditemani Ketum JMSI Jabar Sony Fitrah (kanan) memenuhi undangan Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Barat Cucu Sutara (tengah)/Net
Ketua Umum Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Teguh Santosa (kiri) ditemani Ketum JMSI Jabar Sony Fitrah (kanan) memenuhi undangan Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Barat Cucu Sutara (tengah)/Net

 Peluang industri nasional menjadi topik perbincangan hangat saat Ketua Umum Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Teguh Santosa memenuhi undangan Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Barat Cucu Sutara pada Senin malam (15/8).


Keduanya bertemu dan berbincang santai di sebuah kafe yang berdiri di Jalan L.L. R.E. Martadinata, Bandung. Turut hadir dalam acara ini, Ketua JMSI Jabar Sony Fitrah.

Topik perbincangan muncul lantaran JMSI dan Kadin Jabar berada dalam kegelisahan yang sama. Yaitu adanya potensi besar sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia (SDM) yang bisa dimanfaatkan untuk Indonesia menjadi pemain ekonomi utama di kawasan dan bahkan dunia.

Syarat utamanya adalah produktivitas nasional harus dipacu semaksimal mungkin. Menumbuhkan jiwa entrepreneurship atau kewirausahaan di kalangan generasi muda juga menjadi pekerjaan rumah tersendiri.

Cucu lantas mengurai bahwa berbagai produk unggulan dari Jawa Barat yang berpotensi menembus pasar internasional. Mulai dari produk tekstil, holtikultura, hingga produk-produk berbasis teknologi.

"Kemarin saya bersama Menteri Perdagangan (Zulkifli Hasan) melepas ekspor benang produksi Sumedang ke lima negara," urainya yang tampak serius walau dalam suasana santai.

Hingga kini, sambung Cucu, daya saing produk tekstil Indonesia masih kalah dari negara-negara pesaing.

"Bayangkan kita memproduksi satu produk dengan modal 10. Jika ditambah margin tentu dijual 15. Sementara pesaing kita bisa menjual dengan dengan harga 10," urainya.

Masalah tidak hanya soal struktur industri, tapi juga kebijakan dan isu sosiologis yang membuat industri di tanah air tidak efesien. Atas alasan itu juga, cucu menilai wajar jika banyak pengusaha lebih memilih jadi pedagang daripada industrialis.

Menanggapi itu, Teguh Santosa menilai bahwa kebutuhan pengusaha, khususnya yang bergerak di sektor UMKM, untuk memahami prosedur ekspor impor tidak kalah penting dibanding strategi peningkatan produktivitas nasional.

Selain memberikan pelatihan dan pendampingan, kata dosen hubungan internasional UIN Jakarta ini, pemerintah juga perlu lebih sistematis dan konsisten dalam mengintegrasikan produk-produk koperasi serta UMKM ke dalam global chain.

Secara khusus, Teguh Santosa menilai penciptaan pelaku wirausaha dan mendorong para pengusaha untuk menciptakan cabang industri baru berbasis inovasi agar produk-produk Indonesia lebih beragam dan memiliki keunggulan kompetitif maupun komparatif adalah hal yang penting untuk disegerakan.

"Oleh karena itu, saya titip agar anggota JMSI Jabar diberi kesempatan belajar entrepreneurship dari Pak Cucu dan rekan-rekan di KADIN Jabar," ujar Teguh yang juga Wakil Sekjen bidang Luar Negeri dan Investasi Masyarakat Ekonomi Syariah (MES).

Terlepas dari banyaknya permasalahan yang dihadapi, Teguh menilai ada beberapa sektor yang berpeluang untuk menembus dan merajai pasar internasional. Jika jeli melihat peluang, lanjutnya, Indonesia sungguh dapat merajai pasar global.