Benarkah Mereka Pejuang Islam?

MASYARAKAT umum menganggapnya "Teroris", akan tetap mereka merasa sebagai "Mujahiddin".





Tidak mudah untuk menyadarkannya, sebagaimana juga tidak mudahnya memutus lingkaran setan kekerasan yang terlanjur terbentuk.





Bom bunuh diri di Polres Medan hanyalah serial kekerasan yang entah sampai kapan akan terus terjadi.





Kasihan para prajurit berseragam coklat yang menjadi sasaran, apalagi dengan sebutan "Thogut" sebagai musuh Tuhan. Begitu juga para pelaku dan keluarganya yang tidak sadar diperlakukan bagai pion di papan catur yang secara periodik dikorbankan, demi kepentingan politik dan ekonomi para pemain di tingkat global.





Mereka umumnya miskin secara ekonomi, juga miskin dalam hal wawasan, sehingga tidak memahami konstalasi politik di tingkat global maupun nasional.





Ditambah dangkalnya paham keagamaan yang dimilikinya, sehingga cendrung berpikir sederhana, yang kemudian menggiringnya untuk mengambil jalan pintas untuk keluar dari himpitan hidup di dunia, untuk meraih surga.





Sungguh mengenaskan dan tidak masuk akal sehat, berjuang dengan bom panci, atau bom pipa yang kelasnya setingkat bom ikan yang setara dengan petasan besar. Sementara yang hendak dilawannya menggunakan rudal, pesawat tempur, drone, kapal selam, kapal induk, dan senjata canggih lainnya.





Lingkaran setan kekerasan sebenarnya dimulai dari Afghanistan, saat Uni Soviet mulai menduduki negara gurun yang miskin ini pada 1979. Melihat ancaman yang datangnya dari negara beruang merah ini, Amerika Serikat bersama negara-negara anggota NATO menggalang kekuatan global untuk membendungnya.





Negara-negara Muslim dikonsolidasi dengan isu ancaman komunisme yang atheis dan anti Tuhan alias "kafir". Maka berduyun-duyun para Mujahiddin berdatangan dari dunia Islam, kemudian masuk dari Pakistan yang menjadi tetangganya, dan terjun ke medan perang Afghanistan.





Setelah Uni Soviet kalah dan mundur dari Afghanistan pada 1989, bahkan bubar sehingga menyisakan Rusia, maka ancaman komunisme yang sangat ditakuti Barat menjadi sirna. Sementara eufora kemenangan para Mujahiddin, yang kemudian mendirikan negara Islam Afghanistan dipandang sebagai ancaman baru bagi Amerika dan sekutunya. Semangat ke-Islaman dalam bernegara, kemudian dipandang sebagai musuh baru bagi Barat.





Maka sejak itu, para mujahiddin yang tadinya dipandang sebagai pahlawan yang disanjung, tiba-tiba berubah status dan diberi stempel "Teroris" yang harus dibasmi.





Meskipun sebagian besar para mujahiddin sudah menanggalkan senjata, dan kembali ke negaranya masing-masing, mereka tetap dipandang berbahaya. Karena itu, mereka harus terus diburu tanpa ampun.





Di Indonesia negara-negara yang memburu mereka bekerjasama dengan kepolisian. Hal inilah yang menyebabkan polisi menjadi sasaran para teroris yang dijulukinya Thogut.





Persoalannya menjadi bertambah rumit, karena pada saat bersamaan ketidakadilan terhadap dunia Islam di tingkat global terus dipraktikan.





Tindakan semena-mena Amerika dan sejumlah negara anggota NATO di Timur Tengah. Pembelaan membabi-buta kepada Israel, sementara penderitaan rakyat Palestina dibiarkan terus menyayat hati dan menguras air mata, yang sudah sampai menyentuh titik nadir kemanusiaan.





Karena itu, tidak mudah untuk memutus lingkaran setan kekerasan di tanah air, selama sumber masalahnya berupa ketidakadilan di tingkat global masih terus berlangsung. Wallahua'lam.***





Penulis yakni DR Muhammad Najib yang merupakan pengamat politik Islam dan demokrasi


MASYARAKAT umum menganggapnya "Teroris", akan tetap mereka merasa sebagai "Mujahiddin".





Tidak mudah untuk menyadarkannya, sebagaimana juga tidak mudahnya memutus lingkaran setan kekerasan yang terlanjur terbentuk.





Bom bunuh diri di Polres Medan hanyalah serial kekerasan yang entah sampai kapan akan terus terjadi.





Kasihan para prajurit berseragam coklat yang menjadi sasaran, apalagi dengan sebutan "Thogut" sebagai musuh Tuhan. Begitu juga para pelaku dan keluarganya yang tidak sadar diperlakukan bagai pion di papan catur yang secara periodik dikorbankan, demi kepentingan politik dan ekonomi para pemain di tingkat global.





Mereka umumnya miskin secara ekonomi, juga miskin dalam hal wawasan, sehingga tidak memahami konstalasi politik di tingkat global maupun nasional.





Ditambah dangkalnya paham keagamaan yang dimilikinya, sehingga cendrung berpikir sederhana, yang kemudian menggiringnya untuk mengambil jalan pintas untuk keluar dari himpitan hidup di dunia, untuk meraih surga.





Sungguh mengenaskan dan tidak masuk akal sehat, berjuang dengan bom panci, atau bom pipa yang kelasnya setingkat bom ikan yang setara dengan petasan besar. Sementara yang hendak dilawannya menggunakan rudal, pesawat tempur, drone, kapal selam, kapal induk, dan senjata canggih lainnya.





Lingkaran setan kekerasan sebenarnya dimulai dari Afghanistan, saat Uni Soviet mulai menduduki negara gurun yang miskin ini pada 1979. Melihat ancaman yang datangnya dari negara beruang merah ini, Amerika Serikat bersama negara-negara anggota NATO menggalang kekuatan global untuk membendungnya.





Negara-negara Muslim dikonsolidasi dengan isu ancaman komunisme yang atheis dan anti Tuhan alias "kafir". Maka berduyun-duyun para Mujahiddin berdatangan dari dunia Islam, kemudian masuk dari Pakistan yang menjadi tetangganya, dan terjun ke medan perang Afghanistan.





Setelah Uni Soviet kalah dan mundur dari Afghanistan pada 1989, bahkan bubar sehingga menyisakan Rusia, maka ancaman komunisme yang sangat ditakuti Barat menjadi sirna. Sementara eufora kemenangan para Mujahiddin, yang kemudian mendirikan negara Islam Afghanistan dipandang sebagai ancaman baru bagi Amerika dan sekutunya. Semangat ke-Islaman dalam bernegara, kemudian dipandang sebagai musuh baru bagi Barat.





Maka sejak itu, para mujahiddin yang tadinya dipandang sebagai pahlawan yang disanjung, tiba-tiba berubah status dan diberi stempel "Teroris" yang harus dibasmi.





Meskipun sebagian besar para mujahiddin sudah menanggalkan senjata, dan kembali ke negaranya masing-masing, mereka tetap dipandang berbahaya. Karena itu, mereka harus terus diburu tanpa ampun.





Di Indonesia negara-negara yang memburu mereka bekerjasama dengan kepolisian. Hal inilah yang menyebabkan polisi menjadi sasaran para teroris yang dijulukinya Thogut.





Persoalannya menjadi bertambah rumit, karena pada saat bersamaan ketidakadilan terhadap dunia Islam di tingkat global terus dipraktikan.





Tindakan semena-mena Amerika dan sejumlah negara anggota NATO di Timur Tengah. Pembelaan membabi-buta kepada Israel, sementara penderitaan rakyat Palestina dibiarkan terus menyayat hati dan menguras air mata, yang sudah sampai menyentuh titik nadir kemanusiaan.





Karena itu, tidak mudah untuk memutus lingkaran setan kekerasan di tanah air, selama sumber masalahnya berupa ketidakadilan di tingkat global masih terus berlangsung. Wallahua'lam.***





Penulis yakni DR Muhammad Najib yang merupakan pengamat politik Islam dan demokrasi