BEM USU: Banyak Janji Jokowi Tidak Terealisasi, Wajar Dijuluki 'The King of Lip Service'

Presiden Mahasiswa USU, Muhammad Rizky Fadillah/Ist
Presiden Mahasiswa USU, Muhammad Rizky Fadillah/Ist

Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Sumatera Utara (USU) mendukung BEM Universitas Indonesia atas kritiknya lewat meme Jokowi 'The King of Lip Service' yang kini membuat mereka dipanggil oleh pihak Rektorat.


Presiden Mahasiswa USU, Muhammad Rizki Fadillah mengatakan BEM USU hadir bersama dengan BEM UI untuk tetap menyuarakan kritik yang dijalankan sesuai dengan koridor selaku mahasiswa.

"Yang dibuat oleh teman-teman BEM UI merupakan wujud penyampaian ekspresi yang sah dalam koridornya, karena semua isi release yang dibuat oleh BEM UI benar adanya. Banyak janji-janji Bapak Presiden yang tidak terealisasi, jadi wajar BEM UI menyampaikan janji itu hanya omongan belaka, makanya dijuluki "The King of Lip Service". Revisi UU ITE tidak menjadi prioritas prolegnas, pasal karet UU ITE yang sudah banyak memakan sekitar 800-an kasus, semakin dilemahkannya KPK, dan rentetan janji lainnya," katanya kepada RMOLSumut, Selasa (29/6/2021).

Rizky memastikan, BEM USU akan tetap menjaga solidaritas antar sesama mahasiswa dalam memberikan kritikan kepada pemerintah. Sebab, hal inilah yang menjadi kalangan mahasiswa sebagai agen perubahan di tengah masyarakat.

"Kami PEMA USU bersolidaritas dengan teman-teman BEM UI, kita mahasiswalah yang diharapkan masyarakat sebagai agen dalam kritik pemerintah. Kita mahasiswa tidak akan mundur dalam mengkritik pemerintah," ujarnya.

Pada sisi lain kata Rizky, kampus haruslah menjadi wahana yang membuat mahasiswa nyaman dalam menyampaikan pendapat. Karena itu, pemanggilan terhadap BEM UI oleh pihak rektorat menurutnya tidak tepat karena terkesan menekan praktik kebebasan berekspresi mahasiswa. 

"Pemanggilan yang sebenarnya dilakukan oleh pihak kampus UI dengan dalih pembinaan BEM UI secara tidak langsung menunjukkan penekanan secara psikis agar mahasiswa dipersulit menyampaikan pendapat ke publik. Kampus seharusnya menjadi wahana yang membuat mahasiswa nyaman dalam menyampaikan pendapat, kejadian ini merupakan praktek yang tidak baik oleh pihak kampus," pungkasnya.