Beda Tipis, Polesan Bikin Cantik Atau Wajah Badut

Ilustrasi
Ilustrasi

Sore ini saya disuguhi dengan perbincangan ngalor ngidul dengan beberapa teman. Sejak awal perbincangan kami hangat meski tanpa pangkal dan pada akhirnya juga sudah bisa dipastikan tanpa kesimpulan.


Hal yang dibahas banyak, dari soal olahraga yang kebetulan sama-sama kami gandrungi, kami bahas hampir habis mulai dari 'atlit kampung' rekan kami bermain hingga atlit dunia yang jadi kebanggaan Indonesia. Kemudian tiba-tiba nyodok ke pembicaraan soal usaha, tak tau siapa yang mulai lagi tiba-tiba membahas soal kawan-kawan lama yang sudah entah pada dimana, lanjut lagi soal dunia antah berantah hingga soal pertarungan pilkada.

Suasananya berubah-ubah, ada canda ada tawa. Masing-masing boleh bicara bahkan tanpa perlu ada jeda. Yang saya suka adalah candaan soal pilkada. Ternyata jargon-jargon paslon yang bertarung di Pilkada khususnya di Kota Medan sudah cukup melekat pada mereka. Misalnya jargon 'Yuk Bikin Medan Cantik', Medan Berkah, Kolaborasi, AMAN dan banyak lagi.

Cemana bikin cantik medan ini? celetuk kawan. Semua terdiam sesaat sebelum tanggapan bernada pesimis muncul. Macam cewek dibikin cantiklah, pipinya diolesi bedak, matanya dikasih celak trus bibirnya dikasih gincu. Begitu kata yang lain.

Tapi jangan salah, bedak yang terlalu tebal ditambah celak yang terlalu tebal dan gincu yang melebar justru akan bikin wajah seperti badut. Timpal yang lain.

Dalam hati saya berfikir ada betulnya juga, niat membuat cantik bisa menjadi silap dan justru jadi memalukan. Tentunya saya tidak ingin mengatakan bahwa badut itu adalah pekerjaan yang memalukan. 

Tak ada kesimpulan akhirnya yang lain mengatakan jangan terlalu bersemangat dan jangan lupa aturan. Berbedaklah sewajarnya, bercelaklah secukupnya dan berginculah sepantasnya. 

Tetap wajah jadi objek utama untuk ditampilkan, bukan make up untuk menutupinya.

Dah sore, kami bubar....!