Ada Peringatan Sebelum Teror Bom Sri Lanka, PM Lempar Tanggung Jawab Ke Presiden

RMOLSumut. Pemerintah Sri Lanka mengetahui informasi mengenai kemungkinan serangan sebelum teror rangkaian ledakan bom mematikan mengguncang hotel dan gereja di ibu kota Kolombo dan dua kota lainnya di Sri Lanka pada Minggu (21/4).

Perdana Menteri Sri Lanka, Ranil Wickremesinghe dalam keterangan kepada wartawan di Sri Lanka pada hari Minggu malam (21/4), mengakui bahwa ada informasi soal kemungkinan serangan.

"Kita juga harus melihat mengapa tindakan pencegahan yang memadai tidak dilakukan," katanya seperti dimuat Al Jazeera.

Wickremesinghe mengatakan, nama-nama yang muncul terkait rangkaian serangan bom itu adalah nama lokal. Namun dia mengatakan, para penyelidik akan memeriksa apakah para penyerang memiliki hubungan di luar negeri.

Pernyataan Wickremesinghe tentang adanya peringatan sebelumnya seakan melemparkan bola api kepada Presiden Sri Lanka Maithripala Sirisena yang memimpin pasukan keamanan. Hubungan presiden dan perdana menteri Sri Lanka diketahui bergejolak setelah krisis konstitusi Oktober.

Saat itu, Sirisena memecat Wickremesinghe. Hal itu memicu krisis politik selama seminggu yang berakhir dengan putusan Mahkamah Agung yang membatalkan pemecatan itu.

Presiden Sri Lanka bertanggung jawab atas polisi, tetapi Wickremesinghe mengatakan, baik dia maupun para menterinya tidak diberi informasi tentang informasi ini.

Sementara itu, Sirisena sebelumnya mengatakan dia memerintahkan satuan tugas polisi khusus dan militer untuk menyelidiki siapa yang berada di balik serangan itu serta agenda yang mereka bawa.

Serangan terkoordinasi tersebut telah menewaskan sedikitnya 207 orang dan melukai lebih dari 450 orang lainnya adalah kekerasan terburuk di negara pulau Samudra Hindia itu sejak perang saudara berakhir satu dekade lalu.

Tidak ada kelompok yang mengklaim tanggung jawab langsung atas serangan tersebut. [krm/rmol]


RMOLSumut. Pemerintah Sri Lanka mengetahui informasi mengenai kemungkinan serangan sebelum teror rangkaian ledakan bom mematikan mengguncang hotel dan gereja di ibu kota Kolombo dan dua kota lainnya di Sri Lanka pada Minggu (21/4).

Perdana Menteri Sri Lanka, Ranil Wickremesinghe dalam keterangan kepada wartawan di Sri Lanka pada hari Minggu malam (21/4), mengakui bahwa ada informasi soal kemungkinan serangan.

"Kita juga harus melihat mengapa tindakan pencegahan yang memadai tidak dilakukan," katanya seperti dimuat Al Jazeera.

Wickremesinghe mengatakan, nama-nama yang muncul terkait rangkaian serangan bom itu adalah nama lokal. Namun dia mengatakan, para penyelidik akan memeriksa apakah para penyerang memiliki hubungan di luar negeri.

Pernyataan Wickremesinghe tentang adanya peringatan sebelumnya seakan melemparkan bola api kepada Presiden Sri Lanka Maithripala Sirisena yang memimpin pasukan keamanan. Hubungan presiden dan perdana menteri Sri Lanka diketahui bergejolak setelah krisis konstitusi Oktober.

Saat itu, Sirisena memecat Wickremesinghe. Hal itu memicu krisis politik selama seminggu yang berakhir dengan putusan Mahkamah Agung yang membatalkan pemecatan itu.

Presiden Sri Lanka bertanggung jawab atas polisi, tetapi Wickremesinghe mengatakan, baik dia maupun para menterinya tidak diberi informasi tentang informasi ini.

Sementara itu, Sirisena sebelumnya mengatakan dia memerintahkan satuan tugas polisi khusus dan militer untuk menyelidiki siapa yang berada di balik serangan itu serta agenda yang mereka bawa.

Serangan terkoordinasi tersebut telah menewaskan sedikitnya 207 orang dan melukai lebih dari 450 orang lainnya adalah kekerasan terburuk di negara pulau Samudra Hindia itu sejak perang saudara berakhir satu dekade lalu.

Tidak ada kelompok yang mengklaim tanggung jawab langsung atas serangan tersebut. [krm/rmol]